Kepada jarak yang menjadikan pelukan
tiada, aku dan kamu saling menyimpan lengan di dada, kemudian berdoa.
Kadar cemburu akan lebih meningkat jika jarak
diikut sertakan di antara dua anak manusia yang setiap hari jatuh cinta, di
antara pilar langit berbeda, ada yang tak pernah berubah, yaitu rindu yang menggebu
– gebu. Sudah setahun lamanya Alan pergi ke Texas untuk melanjutkan study nya, sementara Lusi menetap di
indonesia, Alan dan Lusi sudah menjalin hubungan 2 tahun terhitung sebelum Alan
pergi ke Texas. Lusi tahu betul apa yang akan terjadi kepadanya jika Alan
pergi, selain dari jarangnya kapasitas untuk bertemu, dia pun pasti akan
kerepotan mengurus rindunya yang masih menggebu – gebu.
Di
pandangnya sebuah foto berbingkai, ada adegan – adegan bisu di mana Alan sedang
memeluk dirinya. Pukul dua dini hari, Lusi masih saja tetap menunggu Alan di
depan laptop, menunggu panggilan dari sana melalui skype , perbedaaan jam yang cukup menyiksa keduanya, membuat
keduanya bersepakat untuk saling mengalah bergiliran terjaga hingga dini hari,
sekedar untuk bertemu dan menyapa selamat pagi, selamat siang, atau selamat
malam tentunya dengan mengikuti perbedaan waktu, Lusi memang sedikit merasa
aneh jika dirinya sudah bersiap tidur kemudian harus mengucapkan selamat pagi
untuk Alan, begitupun dengan Alan.
“
selamat pagi sayang “ Lusi menyapa.
“
selama malam sayang, udah mau tidur ya, ngantuk ? “
“
engga ko, aku Cuman ganti pake baju tidur aja, hari ini kuliah ? “
“
ia aku ada kuliah jam 11 nanti ko, kamu tidur ya, nanti kamu sakit “
“
engga ko, tenang aku kuat gakan sakit, mana mungkin aku sakit kalau
bergadangnya buat ketemu kamu, toh besok giliran kamu kan yang ngucapin selamat
pagi buat aku “
Keduanya
saling tersenyum, dengan seragam menyembunyikan kesedihannya masing – masing
yang tidak ingin di ketahui, tagan Lusi ia letakkan di layar laptop begitupun
dengan Alan, imajinasi mereka membuat semua terasa benar saling bersentuhan,
mereka memejamkan kedua matanya, dengan khidmat dengan sesak yang tertahan,
mata Lusi sedikit terbuka tak sengaja dan sadar menyergap lengannya, kesadaran
memberitahunya bahwa kulit wajah Alan masih jauh, masih tidak terjangkau,
imajinasipun tak sanggup meminjamkan ilusinya lebih lama kepada Lusi, sebab
imajinasi yang keibuan tak tega melukai
hati Lusi yang terlanjur menjadi lubang
karena di lukai jarak.
Tak
ada yang lebih cepat terbangun dari matahari, sekalipun kecepatan embun yang di
jatuhkan udara dingin malam hari kepada dedaunan, selain dari doa – doa yang di
panjatkan Lusi untuk Alan, yang penuh dengan air mata tertahan dan hati yang
penuh harap, Lusi tahu betul apa yang seharusnya ia pinta kepada Tuhan, bukan
sebuah pertemuan karena Lusi tahu kapan ia akan bertemu, yang ia pinta hanya
Tuhan tak pernah lupa untuk menyampaikan pelukan – pelukan yang ia selipkan di
setiap baris doa untuk menjaga Alan.
“
selamat pagi sayang “ suara Alan di ruang maya.
“
selamat malam sayang, udah mau tidur ya ? ngantuk ? “
“
engga ko, aku Cuman ganti pake baju tidur aja, hari ini kuliah ? “
“
ia aku ada kuliah jam 8 nanti ko, kamu tidur ya, nanti kamu sakit “
“
engga ko, tenang aku kuat gakan sakit, mana mungkin aku sakit kalau
bergadangnya buat ketemu kamu, toh besok giliran kamu kan yang ngucapin selamat
pagi buat aku “
Tak
ada luka yang lebih sakit yang di berikan jarak dari pada percakapan yang
serupa dejavu, setiap hari begini, Lusi terdiam memandang Alan di ruang maya,
hatinya berkecamuk, ada lelah, ada marah, tapi rindu memenangkannya, harus di
paksakan menikmati pertemuan singkat yang di luangkan waktu kepadanya untuk
sekedar menyampaikan rindu yang tidak mau sedikit memberi jeda untuk Lusi tidak
memikirkan Alan sehari saja.
“
kamu seharian kemana aja sayang ? “ lanjut Lusi bertanya.
“
oh tadi pulang kuliah aku hunting bareng temenku, terus abis itu aku makan,
sayang kamu jangan lupa sarapan, atau sarapan sambil skype aja “
“
wah asik ya, ia sebentar aku ambil sarapan dulu “
“
kemarin aku yang liatin kamu sarapan, sekarang kamu yang liatin aku sarapan,
kapan kita sarapan bareng “
“
J “ Alan hanya tersenyum, ia tahu tentang
keduanya teramat sangat ingin melakukan semua hal bersama – sama tapa jarak
ikut serta.
Ada
perasaan cemburu yang membakar hati Lusi, ia cemburu kepada teman – teman Alan
yang bisa kapan saja bersama Alan, yang bisa melihat Alan, yang bisa menyentuh
Alan, yang makan bersama dengan Alan, yang bisa mendengar suara tawa Alan, Lusi
rindu semua tentang Alan, kejahilannya, kekonyolannya, kekanak – kanakkannya,
ketawanya, marahnya, Lusi rindu, sangat merindukan Alan. Lusi cemburu kepada
hujan yang lebih dulu jatuh di tubuh Alan,
menyusup di kulit Alan sampai ke dalam celananya, hujan juga menyentuh bibir
Alan sesekali tertelan lidahnya, seharusnya itu adalah milik Lusi, Lusi, hanya
Lusi yang boleh jatuh di tubuh Alan, di pelukannya yang hangat, hanya Lusi yang boleh masuk ke dalam
baju dan celana Alan, hanya lusi yang boleh menyentuh bibir Alan sampai menarik
– narik lidahnya, hanya Lusi, Alan milik Lusi bukan milik hujan.
Keduanya senang jika datang libur
kuliah, itu pertanda bahwa Alan bisa mewujudkan keinginan Lusi, bersama – sama
sarapan ketika pagi hari, dan tidur bersama – sama di malam hari, masih di
batasi jarak, masih di antara ruang maya, masih harus saling mengalah untuk
bergiliran terjaga tapi tetap bersama – sama.
Seharian penuh mereka bersama – sama,
laptop tak pernah di matikan Lusi maupun Alan, access internet bersahabat,
waktunya mereka bermesraan.
Lusi
dan Alan tidur bersama, saling mengucapkan kata – kata yang mesra, memejamkan
mata dan mempersilahkan imajinasi menuntun lengan masing – masing untuk
bersentuhan. Ada perasaan cemburu lagi di hati Lusi, kali ini ia cemburu kepada
kasur, guling, batal, dan seisi ruang kamar Alan, seharusnya yang di peluk Alan
ketika tidur adalah Lusi, Lusi cemburu kepada setiap benda mati di kamar Alan,
bagaimana bisa benda mati mendapatkan apa yang selama ini Lusi inginkan, benda
mati, hanya benda mati, Lusi tak percaya Alan memilih benda mati di bandingkan
Lusi untuk menemaninya tidur, untuk menjaganya sepanjang malam, yang lebih gila
lagi adalah kini bukan Lusi satu – satu nya yang melihat seluruh tubuh Alan,
benda – benda mati sudah menggerayangi seluruh tubuh Alan diam – diam saat Alan
sedang mengganti pakaiannya, kali ini Lusi tidak bisa diam begitu saja.
“
sayang kamu bisa gak tidur di kamar yang gak ada isinya sama sekali, gak ada
kasur, gak ada lemari, gak ada pajangan – pajangan , gak ada bantal dan guling
? “ tanya Lusi konyol.
“
maksud kamu gimana sayang, kamu aneh deh nanyanya “ jawab Alan.
“
aku cemburu “.
Alan
terdiam, diamnya mendobrak nalar Lusi, masuk dan mengelana disana, Alan
merasakan hal yang sama, ia cemburu pada semua hal di sekeliling Lusi yang
merampas tempatnya.
Bogor, 2 September 2013
Untuk Al dan Jarak
Slots Casino - Mapyro
BalasHapusSlots Casino. 세종특별자치 출장안마 3131 S Flamingo Rd, Las Vegas, 아산 출장샵 NV 89109. Directions · (702) 770-1000. Call Now · More Info. Hours, Accepts Credit Cards, Attire, Wi-Fi, PokéStop. Rating: 이천 출장샵 3.5 · 71 votes · Price 강원도 출장샵 range: $ 제천 출장마사지